Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2015

Note


Have you ever feel so down? There’s no spirit in your life, you feel like you’re alone, you’re nothing, you can’t step your life anymore. I feel it now, I’m so tired of being like this. Same like this song, I really love this song, this is my favorite song since 3 years ago. This song always make me cries when I listen to it, in uncontrolled emotion. 

I just wondering my life in future, it is so make me impressed, it’s beautiful life. But, in the fact, everything gonna wrong. The process to make it true is hard, I never imagine it before. I don’t have anyone to talk, to tell all of my problems, I just have Allah. I just think, I can’t believe anyone even that my parents. They may be know my problems, but they may be not understand. But, Allah know,  Allah know everything in this world, what truly happened with me. That’s why, I always erase my stress feeling with listen this song and crying in the middle night, after I cried, my feel going to be okay. 

Dreams, ambition, passion, vision, and whatever it called. Its makes me feeling alive, everytime I fell down, I get up. I know, there’s no one thing in this world happened without Allah permission, and I believe too, what I’m feeling now, it’s a learning for me. But I don’t know, how long that I can hold and pretend like there’s nothing happened in my life. I just a girl, who have big ambition and thousands dreams.
The world like not fair for me, until now. I have to suffering on my honestly, but the cheaters are happy out there! I just try to start the real life with honest, although its hard when I have to realize, I just the only one who keep the honestly between the many cheat around me. Only Allah know it, I don’t have to tell to anyone, because they don’t know, they don’t understand.

If I talk about problems, there are so many problems I have in this time, and it’s not easy to leave. One more time, I can’t tell to anyone, because no one understand, no one knows how it feel.
I just asking how the success peoples around me enjoy their life? I know, there’s no success without suffer. They inspire me, make me more stronger than before. I want to be like them, I want to success, I want to be an extra ordinary girl. I want to do everything, to complete my skills. 

I’am trying to be wise, I don’t want to show my problems. But, how long can I keep this problems? I just a man, who have many imperfection. If you say that I was worng, tell it! And if you say that I am right, tell it too!

Now imagine the peoples inspire you, imagine your problems, imagine how suffer you  are, feel the pain, let it blow up in your eyes, let your tears fell down, and let yourself to cry. Take it out from yourself by the tears, let it go with all of your emotions now. Feel the angry, scream in your heart and throw all of your sadness in every tear you cry.

I always use this for make my feeling better, and after this, I went to sleep with peace and relax in my mind.

Well, maybe this is not a great write, because i'm confusing now. I can't write clearly, I don't know what i have to write. But, actually i want to write a motivation article by my story. Then, i can't think clearly about that. Maybe in the next write, i will have better topic than today.

Minggu, 17 Mei 2015

A Little Story in The Midnight

Malam ini sekitar jam setengah sebelas, dan saya masih duduk manis didepan laptop saya. Banyak hal yang berkecamuk dipikiran ini, rasanya dibulan-bulan tahun 2015 adalah bulan-bulan yang paling menguras tenaga dan pikiran saya. Banyak hal yang sudah saya lalui dan semua itu menguras emosi saya, dan saya hadapi itu sendirian. Mulai dari permasalahan Ujian Sekolah, Ujian Nasional, Masuk Kuliah, Komunitas, dll. Tetapi malam ini saya kembali dipusingkan dengan suatu project yang harus saya selesaikan dalam waktu cepat, dan project ini dicanangkan untuk waktu yang tidak sebentar, saya ditargetkan untuk membuat project ini tahan bertahun-tahun lamanya demi mencapai satu tujuan yang memang impian saya...

Berbicara tentang impian, saya baru sadar jika saya memiliki blog tetapi hanya untuk  memposting artikel atau cerpen saja... Padahal saya juga bisa berbagi cerita disini. Saya tergelitik untuk menulis tentang curcol saya kali ini karena melihat blog seseorang yang saya kagumi, seseorang yang saya anggap memiliki ambisi dan keinginan untuk mencapai cita-cita maupun impian sama seperti saya. Lucu rasanya, ternyata orang yang menginspirasi saya menuliskan kisah-kisah yang sebenarnya untuk menyemangati dirinya sendiri tetapi justru bisa menyemangati saya juga sebagai pembaca.

Well, sebenarnya saya sangat lelah malam ini, saya capek dalam 2 hari mengikuti kegiatan yang menguras pikiran. Namun karena masih ada masalah yang harus saya selesaikan, saya jadi susah tidur.

Berbicara tentang impian, semua orang pasti punya impian. Namun apakah mereka sudah memulai langkah mereka untuk mencapai impian tersebut? Ntahlah, saya juga tidak tahu. Tetapi menurut saya, bermimpi itu gratis dan dengan bermimpi kita bisa menjadi siapa saja yang kita inginkan, kita bisa mendapatkan apa saja, dan kita bisa melakukan apa saja. Hal inilah yang membuat saya senang bermimpi maupun berkhayal, karena mimpi atau khayalan itulah yang menyemangati saya. Jika ditanya berapa banyak impian saya? Saya menjawab pertanyaan tersebut adalah Unlimited Dreams yang tertulis didalam buku hidup saya. Saya mempunyai sebuah buku, yang dimana didalam buku tersebut saya tulis impian-impian saya, cita-cita, rencana hidup, karir, prestasi, serta cerita-cerita keseharian saya tetapi tertentu saja yang saya tulis, jika saya rasa itu memiliki pembelajaran. Serta target-target yang akan saya capai dalam waktu dekat maupun pendek. Itulah saya, saya senang dengan kata-kata motivasi sejak SMP,  saya belajar bijak darisitu. Namun seiring dengan berjalalnnya waktu, saya mencoba berubah arah. Saya mulai kehilangan bijak saya ketika menginjak SMA, saya sibuk dengan organisasi dan lomba-lomba, saya menyibukkan diri setelah "patah hati" yang dimana sekarang saya sadar bahwa Allah memisahkan saya dengan dia karena Allah tidak mau saya jatuh pada lelaki yang salah. Dan saya berterimakasih akan hal itu, karena dengan adanya kejadian seperti itu saya malah sibuk ikut kegiatan disana sini sehingga menambah nilai pada diri saya.

Saat ini, jika berbicara tentang sukses mungkin saya tidak akan habisnya berbicara. Namun, intinya sama saja dengan artikel-artikel yang membahas tentang sukses, mimpi, cita-cita, dll. Saya tidak perlu menuliskan panjang lebar karena sudah jelas bagaimana dan apa. Saya sadar bahwa prestasi dan pengalaman adalah sesuatu hal yang sangat bernilai dan tidak bisa didapatkan dengan mudah.

Saya calon mahasiswi Fakultas Kedokteran, Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura tahun 2015, pada awalnya saya memang ingin menjadi dokter sejak SMP. Cita-cita saya hanya itu, sehingga ketika masuk SMA kelas 2 saya mengambil jurusan IPA agar bisa masuk kedokteran. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya kegiatan saya yang berurusan dengan berbicara dan berorganisasi, saya menemukan passion baru di bidang Hubungan Internasional dan saya suka hal-hal yang berbau luar negeri, hingga saya ingin menjadi Duta Besar atau Diplomat. Akhirnya pada penerimaan mahasiswa baru jalur tes nilai rapot (SNMPTN) saya kebingungan untuk meletakkan pendidikan dokter atau hubungan internasional dipilihan pertama (yang lebih diprioritaskan), setelah berpikir panjang dibantu dengan konsultasi dari guru  les, akhirnya saya meletakkan dokter dinomor satu dan HI dinomor dua, sama-sama di Universitas Tanjungpura. Saya awalnya tidak yakin jika akan lulus kedokteran, karena saya juga sadar bahwa masih ada sekolah-sekolah lain yang murid-muridnya lebih pintar dari saya. Sehingga saya sudah optimis lulus di HI, dan saya kehilangan semangat dan passion saya di kedokteran, satu hal yang semakin membuat saya tidak tertarik kedokteran karena saya takut finansial saya tidak mencukupi untuk kuliah disana. Akhirnya ketika pengumuman tiba, saya harus menahan kaget setengah mati ketika tulisan berwarna hijau muncul dan menyatakan saya lulus dikedokteran Untan. Untung saja saya juga mendaftar sebagai peserta beasiswa bidikmisi sehingga saya tidak perlu memusingkan masalah uang kuliah lagi. Dari kejadian ini bisa saya simpulkan bahwa : target yang telah kita pasang jauh-jauh hari dan kita menempuh jalan-jalan yang dapat mengantarkan ke target tersebut, pasti akan tercapai.

Setiap orang memiliki jalannya masing-masing, tetapi orang tersebut harus menemukan jalan yang tepat dan nyaman agar ia bisa mencapai garis finish dengan mudah dan senang. Sekarang saya sadar bahwa berorganisasi maupun ikut dalam komunitas adalah hal yang menyenangkan, satu hal yang saya takutkan ketika saya sudah berkuliah adalah saya susah untuk aktif seperti sekarang. Karena saya juga berkuliah di level yang dapat dikatakan orang level anak-anak yang memang harus banyak belajar daripada berorganisasi. Tetapi itu adalah jalan hidup yang harus dijalani, saya telah memilih jalan ini dan Allah telah memberikan jalan ini juga kepada saya.

Mungkin tanpa saya sadari, saya telah membuat banyak orang bangga terhadap saya, saya sudah mem buat banyak orang terinspirasi karena melihat saya. Suatu kebanggaan bagi SMA Negeri 9 Pontianak ketika mengetahui ada salah satu siswinya yang masuk kedokteran prodi pendidikan dokter jalur nilai rapot, karena belum pernah ada yang bisa lolos lewat jalur itu. Awalnya, masuknya saya ke pendidikan dokter adalah hukuman, tetapi ternyata saya salah. Ini adalah hadiah, hadiah dari perjuangan saya selama bertahun-tahun untuk mempertahankan nilai meskipun fluktuatif. Mungkin tidak banyak prestasi yang bisa saya ukir 18 tahun ini, tetapi saya baru menemukan prestasi terbesar saya ketika saya SMA. Tetapi diluar sana masih banyak anak-anak muda yang memiliki prestasi lebih daripada saya, dan saya yakin saya juga bisa meningkatkan prestasi saya. Inilah yang menjadi kebanggaan saya, inilah kerja keras saya, inilah perjuangan saya...

Minggu, 07 Juli 2013

AKHIR DARI SEBUAH MENUNGGU (Short Story By Fithriyyah)


Olive masih duduk menunggu & termenung memeluk sebuah lukisan di depan sebuah danau dimana ia bertemu dengan pujaan hatinya, Reza. Pada waktu itu Olive sedang melukisa pemandangan danau yang indah itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pria.
 
“Wah, lukisannya bagus ya” ujar pria itu

“Makasih. Ngomong-ngomong kamu siapa ya?”

“Kenalkan nama aku Reza, aku seorang fotografer. Kebetulan aku ingin memotret pemandangan disekitar danau ini. Kalau kamu pasti seorang pelukis ya?”

“Oh, fotografer. Hm, nama aku Olive aku bukan pelukis kok. Melukis Cuma hobi aku”

“Ohh, gitu ya. Tapi lukisan kamu bagus kok, bener deh. Ga kalah sama pelukis profesional”

Dari perbincangan itu Olive & Reza pun semakin dekat, tepat bulan ke 5 setelah mereka bertemu, Reza menembak Olive didanau mereka bertemu dulu.”

“Sejak awal kita bertemu sampai saat ini, aku ngerasa nyaman sama kamu, aku ngerasa kamu orang yang tepat untuk aku cintai terakhir kalinya. Will you be my girlfriend?” ucap Reza

“Sama, Za. Aku ngerasa sama kayak kamu, aku mau kok jadi pacar kamu.” jawab Olive
Sejak saat itu mereka resmi berpacaran, Reza berjanji akan segera mengajak Olive menikah apabila ia telah mengumpulkan cukup uang untuk pesta pernikahannya, suatu hari nanti.

***
Pada suatu hari, Reza diminta untuk menjadi fotografer di sebuah acara pameran bergengsi diluar negeri, sudah pasti gaji yang akan diberikan cukup besar daripada acara didalam negeri.

“Sayang, aku akan pergi ke Jerman selama 2 minggu. Aku janji setelah aku pulang nanti, aku akan langsung melamarmu & kita akan menikah.” ujar Reza

“Tapi sayang, apa ga kejauhan ke Jerman? Aku takut kamu kenapa-kenapa” jawab Olive sedih

“Aku tahu sayang ini mungkin sulit, tapi ini demi masa depan kita.”

Olive hanya bisa terdiam, kata-kata Reza benar. Reza melakukan hal ini untuk masa depan mereka.

Hari itupun tiba, Olive mengantar Reza ke bandara.

“Aku pergi dulu ya, sayang. Kita akan bertemu di danau itu lagi ya, Dah” kata Reza
Olive pun melepas kepergian Reza, dalam hatinya ia selalu berdoa agar semuanya akan baik-baik saja.

***

2 minggu sudah Reza pergi, seharusnya hari ini ia sudah pulang. Mungkin Reza mengalami suatu kendala sehingga ia tidak bisa pulang.

 ***

Sebulan sudah Reza tidak pulang, Olive masih menanti kedatangan Reza didanau tersebut.Wajahnya pucat, badannya agak kurus, pandangannya menerawang kosong. Ia pun jatuh pingsan, tak lama nafasnya pun perlahan-lahan hilang, detak jatungnya sudah tak terdengar, burung-burung sudah tidak berkicau lagi, hanya senja yang menyelimuti badannya yang dingin. Sebuah Koran tergeletak disampingnya, terdapat sebuah berita yang berbunyi:
PESAWAT PENERBANGAN JERMAN-JAKARTA JATUH TERGELINCIR & MENEWASKAN 10 ORANG PENUMPANG.
Jakarta, (04/02) Pesawat penerbangan Jerman-Jakarta jatuh tergelincir & membuat 10 orang penumpang tewas akibat terbakar, 40 penumpang lainnya berhasil selamat karena cepat menyelamatkan diri 10 menit sebelum terjadinya kebakaran didalam pesawat & penumpang yang tewas diperkirakan terjebak & pingsan tertimpa barang bawaan sehingga tidak dapat mengevakuasi diri. Penumpang yang tewas antara lain : Bcsing Thom (38), Anne Hchitz (50), Reza Putrawarsa (22),………

Sabtu, 22 Juni 2013

CINTA ADA KARENA LUKA (Special Short True Story About Broken Heart)


Senja itu langit perlahan berubah warna menjadi gelap, ya, mendung. Hiruk pikuk orang-orang di sebuah taman yang sedang berjalan ke satu tujuan dimana untuk menghindari hujan yang akan datang, atau bisa dikatakan mereka pulang kerumah. Namun, Evlin masih saja tetap bertahan dibangku itu, letaknya ditengah taman didekat danau, disampingnya terdapat sebuah pohon akasia yang daunnya mulai berguguran satu persatu diterpa angin.

“Huhhh…” rintih Evlin pelan

Kenangan itu kembali melesat dalam pikirannya, bayangan itu, seakan nyata didepan matanya. Ia masih bisa mengingat betapa basah pipinya karena air mata yang mengalir, ia juga masih bisa mengingat kejadian itu, yang rasanya baru saja terjadi, padahal itu telah terjadi berminggu-minggu yang lalu, serta ia bahkan masih bisa merasakan luka yang baru tergores saat itu, yang masih basah, tersayat dalam, & takkan terlupakan.

“Aku tahu, aku yang mengakhiri semua ini. Itu semua karena aku ga sanggup kamu buat seperti ini, aku sakit. Namun disisi lain, aku benar-benar tulus mencintaimu, tapi kenapa kamu ga pernah menghargai perasaan aku?”

“Maafkan aku, Evlin. Kita udah ga bisa bersama lagi, aku udah terima keputusanmu itu. Dan aku rasa lebih baik kita berteman saja…”

“Tapi Ben…”

Cinta memang menyakitkan untuk Evlin, ia yang selama setahun terus tersakiti oleh Ben, terpaksa mengakhiri hubungannya sendiri. Dan dari situlah, Evlin tahu. Bahwa Ben selama ini tidak pernah tulus mencintainya, tidak pernah ingin memperjuangkan hubungan mereka, dan ketika terbebas dari Evlin, Ben seperti burung yang lepas dari sangkar, Evlin sudah lelah berjuang sendirian untuk mempertahankan hubungannya itu. Walaupun sebenarnya berat, cinta itu sudah seperti akar pohon akasia yang hidup berpuluh-puluh tahun ditaman itu, kuat & dalam menembus tanah, banyak menyimpan kenangan, serta sukar untuk dihancurkan.
Tak terasa, air mata pun jatuh membasahi pipi Evlin, seiring dengan turunnya rintik-rintik hujan yang jatuh membasahi bumi.
***
“Ev, jalan yuk?” ujar Bella
“Kemana?” jawab Evlin
“Nonton bioskop, aku udah lama nih ga nonton film. Temenin yuk? Sekalian aku mau kenalin kamu teman-teman kuliah aku. Ya sebagai murid universitas yang baru & baik, harus punya banyak teman dong?”
“Hm, iya deh iya. Aku juga lagi bosen nih.”
“Oke sip, siap-siap gih sana!”
“Iya iya, bawel.”

Bella, merupakan sahabat Evlin. Mereka berteman sejak SMA, meskipun sekarang mereka berbeda universitas. Bella sangat mengetahui semua kisah yang dialami sahabatnya Evlin, seperti yang ia tahu sekarang bahwa Evlin trauma dengan suatu hal yang namanya CINTA. Semenjak putus dengan Ben, hidup Evlin kini tak jauh dengan air mata, oleh karena itu sebagai sahabat yang baik, Bella selalu ada disamping Evlin untuk menghibur.

“Ev, nih kenalin teman aku namanya Jill, Lily, & cowok yang satu ini namanya Kevin.” ujar Bella seraya menunjuk orang-orang yang dibilang temannya itu.
“Hai. Evlin…” ucapku dengan melemparkan sebuah senyuman ke mereka bertiga & berjabat tangan satu per satu.
Tiba-tiba saat bersalaman dengan Kevin…
“Hai, Ev. Aku Kevin…”
“Hei? Kok melamun? Ada yang salah dengan aku?”
“Oh, ngga ngga kok.”

Evlin melamun, terasa seperti Kevin memancarkan aura tersendiri saat didekat Evlin, rasanya Evlin pernah bertemu dengan Kevin. Namun, momen itu juga mengingatkan Evlin pada saat pertama kali berkenalan dengan Ben. Sesak & bingung, itulah yang ada dibenak Evlin sekarang. Ia tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Ternyata kegelisahan Evlin terbaca oleh Bella.

“Ev, kenapa?” tanya Bella
“Ngga kok, Bel. Oh iya aku tiba-tiba ga enak badan nih, aku pulang duluan yah?”
“Jangan bohong deh, Ev. Aku tahu, pasti sekarang kamu keingat sama Ben, kan? “
“Hm… Iya, Bel. Ntah kenapa perkenalan aku sama Kevin mengingatkan aku dengan Ben…”
“Ev, aku tahu kamu tulus mencintai Ben, karena dia juga cinta pertama kamu kan? Tapi Ev, sampai kapan kamu begini terus? Apakah Ben juga ngerasain apa yang kamu rasain sekarang? Ngga kan? Bahkan dia ga mungkin sering keingat dengan kamu, lihat aja kemarin dia ga ada usaha buat jelasin semuanya pas kamu bilang putus kan? Untuk apa mikirin orang yang ga pernah mikirin kamu? Untuk apa nangisin orang yang ga pernah nangisin kamu? Open your eyes, Ev!”

Evlin cuma diam, didalam hatinya ia membetulkan kata-kata Evlin. Namun semua itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Luka itu butuh waktu untuk sembuh, dan ketika sembuh juga pasti akan meninggalkan bekas, bekas yang akan dibawa seumur hidup. Cinta yang membuat semua ini, hanya cinta yang dapat membuat sebuah taman berbunga menjadi gurun pasir yang gersang.
***
Handphone Evlin berbunyi, ternyata ada seseorang yang menelpon. Namun, nomor tersebut tidak terdaftar dikontak handphone Evlin.

“Halo. Ini siapa ya?”
“Halo, ini Evlin kan? Aku Kevin…”

Evlin terkejut mendengar hal itu, siapa yang telah berani memberikan nomor handphonenya ke orang lain? Jawabannya pasti, Bella!

“Oh, iya ada apa ya?”
“Ngga, oh iya tadi Bella pesan sama aku, katanya nyuruh kamu untuk pergi ke taman ntar sore.”
“Hah? Ngapain? Kok dia ga telpon atau sms aku yah?”
“Ga tau juga sih, tapi tadi dia sibuk banget soalnya.”
“Oh iya deh, thanks ya, Kev.”
“Sama-sama.”

Suasana taman itu tidak terlalu ramai sore ini, mungkin karena hari ini bukan hari Minggu atau Sabtu, melainkan hari Senin. Dimana mungkin sebagian orang lelah akibat sibuk bekerja dan memilih pulang kerumah daripada menikmati keindahan taman ini.

“Mana sih Bella? Udah sejam nunggu, eh ga muncul-muncul.” gumam Evlin sambil memindahkan posisi duduknya.
“Hai, Ev!” panggil suara yang tidak asing ditelinga Evlin
“Kevin? Kok kamu disini?”
“Aku disini buat ketemu sama kamu.”
“Ketemu aku? Untuk apa?”
‘“Ga kenapa-kenapa. Oh iya kenapa kemarin kamu kelihatan murung?”
“Kapan?”
“Pas kita pertama ketemuan, kamu ada masalah?”
“Hm, ngga kok. Kamu jangan asal tebak deh.”
“Terkadang kita harus dipertemukan dengan seseorang yang salah, sebelum akhirnya dipertemukan dengan seseorang yang benar. Masa lalu bukanlah sebuah kejadian yang perlu disesali akan kehadirannya dalam hidup, namun masa lalu harus dijadikan sebuah pelajaran agar kesalahan itu tidak terulang untuk kedua kalinya. Mungkin Tuhan memisahkan kamu dengan orang yang kamu cinta, karena dia bukan yang terbaik untukmu, dia tidak tulus mencintaimu, dia tidak pernah berjuang untuk hubungan kalian, & dia dengan mudahnya membiarkan orang yang mencintainya pergi dari hidupnya. Percayalah, Tuhan akan menggantinya dengan seseorang yang cintanya lebih besar dari cintamu, yang akan berjuang dalam hubunganmu, & yang akan terus menggenggammu agar kamu tidak pergi dari hidupnya.”

Evlin terkejut mendengar semua perkataan Kevin barusan. Kenapa dia bisa tahu? Apa Bella sudah membocorkan rahasia hidupnya dengan orang lain? Evlin ingin marah, namun ia kembali teringat dengan Ben. Apa yang diucapkan Kevin memang betul apa adanya, namun sekali lagi, cinta yang dapat membuat seseorang bertahan sendirian dalam luka.

“Ayolah, Ev! Move on! Masih ada orang yang mencintaimu didunia ini, termasuk AKU!”
Bagai tersambar petir disiang hari, hal gila apa lagi ini? Seorang cowok yang baru sekali ia temui menyatakan cinta?
“Hah? Apa kamu gila? Kamu boleh menasehatiku dengan kata-kata puitis itu! Tapi ingat, kita baru sekali ketemu, dan dengan semudah itu kamu menyatakan cinta? Sepertinya kamu belum tahu makna cinta yang sesungguhnya…”
“Aku sudah tahu, bahkan sejak 4 tahun yang lalu! Sejak kita masih duduk di bangku SMA, ingat?”
Apa? SMA? Rasanya Evlin tidak pernah mempunyai teman SMA bernama Kevin, apa-apaan semua ini? Apa Evlin pernah amnesia sehingga tidak bisa mengingat dengan baik teman-temannya?
“SMA? Siapa kamu? Aku rasanya tidak mengenalmu sebelumnya!”
“Aku, Hobert Kevianus Eldern. Aku adalah cowok yang pernah menyukaimu, penampilanku memang culun dulu, dan aku biasa dipanggil Hobert. Ingat? Dan ketika aku masuk universitas, aku mengubah penampilan dan nama panggilanku. Dan sampai sekarang rasa suka itu berubah menjadi cinta, Ev. Oleh karena itu aku masih mencari tahu tentang informasi kamu, dan untungnya ada Bella.”
“Astaga? Jadi kamu Hobert? A-apa? Kamu ga bercanda kan?”

Hobert, ya, nama cowok itu tidak asing ditelinga Evlin. Dulu sewaktu diacara perpisahan Hobert pernah menembaknya sekali, namun ditolak Evlin. Evlin tidak menyangka Hobert itu adalah Kevin yang sangat jauh berbeda sekarang, tidak dapat dipungkiri, Hobert atau Kevin yang sekarang memang lebih tampan & berwibawa.

“Sekarang kamu sudah tahu kan? Ev, aku masih menunggu untuk cintaku diterima olehmu. Jadi, maukah kamu menjadi pacarku?” ujar Kevin sambil menyodorkan sebuah mawar merah yang telah layu.
“Mawar itu? Mawar itu yang dulu kamu sempat ingin berikan ke aku kan? Tetapi aku buang. Maaf, Kevin. Aku ngga bisa terima kamu…”
“Kenapa? Masih tentang Ben? Ev, life must go on, jangan gara-gara hal ini kamu menutup pintu hatimu. Jika Ben benar-benar tulus dan cinta sama kamu, mungkin pada saat kamu bilang putus dia tidak membiarkan mu pergi begitu saja. Apakah dia masih pantas diperjuangkan jika ia saja tidak mempedulikanmu?”

Evlin hanya diam, ia bingung, disisi lain ada hati yang terluka & cinta yang mulai tumbuh.

“Baiklah, Ev. Aku akan masih menunggu cintaku diterima olehmu. Tapi ingat Ev, Ben saja dengan mudahnya melupakanmu, tetapi kenapa kamu tidak dengan mudahnya juga melupakannya? Aku tahu cinta pertama memang sangat berbekas, tapi tak ada untungnya jika kita terus hidup dimasa lalu. Kamu masih punya kehidupan, Ev. Masih banyak yang harus kamu lakukan tanpa Ben, masih ada bintang yang menemani bulan, masih ada Tuhan yang menemanimu, Ev. Dia tahu yang terbaik untukmu, dan setiap kejadian yang terjadi adalah atas dasar kehendakNya, atas dasar rencanaNya yang suatu hari akan indah pada waktunya…”

Kevin pun pergi meninggalkan Evlin. Evlin hanya terdiam dan memandang kosong kejauhan. Ntah apa yang bergejolak dalam hati dan pikirannya, yang jelas semua itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Air mata pun mulai perlahan-lahan jatuh dari matanya.
***
Para pelayatpun satu per satu pulang meninggalkan makam tersebut. Namun ketika semua pelayat pergi, masih ada satu yang tertinggal, yaitu Evlin yang masih duduk disamping makam yang penuh dengan bunga tersebut. Evlin terisak, tidak menyangka bahwa semua akan berjalan secepat ini. Air matanya jatuh saat membaca sepucuk surat yang berikatan dengan setangkai mawar layu.

Dear Evlin,
Ev, mungkin ketika kamu baca surat ini, aku sudah tidak berada disampingmu lagi, mungkin aku telah pergi kesisi-Nya. Penyakit leukemia ku semakin parah, dan aku takut pada saat detik-detik terakhir hidupku, aku tidak bisa melihatmu dan menyatakan cintaku padamu untuk yang kesekian kalinya. Maka dari itu, aku meminta Bella untuk mempertemukan kita di bioskop kemarin, dan akhirnya pada pertemuan kedua, aku bisa menyatakan cintaku dan melihat wajahmu dari dekat lagi. Namun, aku berharap bahwa di detik-detik terakhir hidupku, aku dapat merasakan cinta dari mu, Ev. Tapi ternyata tidak, ternyata kamu masih belum bisa menerima cintaku. Tetapi itu tidak masalah bagiku, Ev, mendengar suara mu saja sudah bisa menghapus rinduku yang telah kusimpan selama setahun lamanya setelah kita lulus. Terima kasih Evlin, sudah menjadi orang terakhir yang aku cintai. Semoga kamu bisa menemukan cinta lain yang bisa membuatmu bahagia, ya. Berhenti tangisi masa lalu, karena tangisan itu akan berubah menjadi senyuman bahagia disuatu hari nanti.

Salam hangat,
Hobert Kevianus Eldern

“Kevin, maafkan aku, sampai diakhir hayatmu, aku belum bisa menerima cintamu… Jika aku tahu kalau usiamu tinggal 3 hari akibat leukemia itu, pasti aku akan menerima cintamu hari itu, disaat kita bertemu ditaman. Dan aku menyadari, bahwa kata-katamu benar, terima kasih telah menyadarkanku. Aku mencintaimu juga, Kevin…”