Tampilkan postingan dengan label UN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2015

Being A Doctor : A Gift Or A Destiny?



"DON'T JUDGE MY CHOICE BEFORE YOU KNOW MY REASON"


Setelah dipikir-pikir, apa untungnya punya blog pribadi? Ya, semakin kesini saya semakin sadar bahwa didalam blog ini saya bisa menuliskan apapun baik kisah maupun informasi. Blog ini awalnya merupakan satu tugas wajib sekolah ketika saya SMP, dan saya baru menyadari kalau kualitas blog saya masih kurang menarik. Tetapi setidaknya, saya ingin agar blog ini bisa dibaca dan bermanfaat bagi orang lain.

Dari beberapa tulisan, mungkin saya menceritakan sebuah kisah atau pengalaman yang kurang mendalam. Mungkin karena pada saat itu saya menulis hanya by the accident, ketika saya timbul hasrat menulis, maka saya akan menulis. Tetapi jika tidak, untuk mengetikkan satu kalimat saja malasnya minta ampun.

Baiklah saya akan memulai untuk memperkenalkan diri saya agar lebih jelas sejelas-jelasnya. Nama saya Fithriyyah, lahir di Mempawah dan besar serta hidup di Kota Pontianak. Sejak SD, Alhamdulillah saya selalu memegang juara kelas, walaupun dengan notabene anak “broken home” dan diasuh oleh nenek saya, tapi ternyata saya bisa mengalahkan anak-anak yang masih memiliki keluarga lengkap. Saya ingat masa kecil saya, ketika saya bermain dan berteman dengan anak laki-laki, penampilan saya juga tomboy, dengan rambut cepak pendek. Masa kecil saya habiskan dengan bermain gambar, kelereng, tembak-tembak, petak umpet dan bermain layaknya anak-anak (sebelum muncul gadget seperti saat ini). Jika kalian bertanya kepada anak-anak, mau jadi apa kalian ketika sudah besar? Sudah pasti mereka akan dengan lantang menyuarakan pendapat mereka, ingin jadi apa nanti. Tetapi, saat itu saya belum memiliki cita-cita, jadi ketika ditanya mau jadi apa nanti, saya hanya menjawab tidak tahu. Dalam mengenyam pendidikan SD, saya sempat sekali pindah sekolah, karena pindah rumah, saya yang awalnya bersekolah di SD Negeri 29 Pontianak selama kurang lebih 5 bulan, lalu pindah ke SD Negeri 10 Pontianak. Masih teringat jelas bagaimana kondisi lingkungan disekitar rumah baru saya, sepi dan tidak ada anak-anak seumuran saya. Tetapi seiring berjalannya waktu saya menemukan teman dari gang sebelah, dan tetangga baru. Baru pada akhirnya saya bermain seperti layaknya anak perempuan, bermain masak-masakan, boneka pasang, dan lain-lain. Ntah kenapa, dilingkungan tempat tinggal baru ini saya saat itu menjadi sering melihat sosok-sosok supranatural yang menyeramkan, dan ini berlangsung sampai akhirnya saya lulus SD.





Perjalanan baru dimulai, saya lulus SD dan melanjutkan ke SMP Negeri 21 Pontianak yang berada cukup dekat dengan rumah saya sehingga saya hanya perlu jalan kaki selama 5 menit untuk sampai kesana. Dan Alhamdulillah, bahkan saat SMP pun saya masih bisa mempertahankan prestasi saya untuk menjadi juara kelas, karena persaingan saya terkadang menempati posisi 2 dan bahkan pernah jatuh ke peringkat 4. Saya sangat ambisius saat itu, dan mulai tertarik untuk belajar keluar negeri. Saya memiliki impian itu. Dan pada saat itu, karena saya terus bingung dan saya sadar bahwa saya harus menemukan cita-cita saya, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan dokter sebagai cita-cita saya, dan pengacara. Dari SMP, saya mencoba untuk aktif di OSIS, saya mencalonkan diri sebagai kandidiat OSIS dan hanya terpilih sebagai sekretaris. Ntahlah, saya merasa bahwa pemilihan tersebut bukan berdasarkan kualitas, tetapi banyaknya kuantitas teman yang mendukung. Tidak masalah menurut saya, saya pasti bisa menjadi yang terbaik nanti, ungkap didalam benak ini. Saya bertekad untuk melanjutkan SMA di dekat rumah saya juga, kebetulan SMA tersebut berada dalam wilayah komplek Sekolah Terpadu yang berisi SMP Negeri 21, SMA Negeri 9, dan SMK Negeri 7. Saya ingin melanjutkan ke SMA dan mengambil program IPA agar saya bisa mewujudkan cita-cita sebagai dokter. Masa SMP saya isi dengan kegiatan Pramuka dan Taekwondo. Pikiran saya belum terbuka saat itu, saya masih seperti katak dalam tempurung. Karena saya sadar bahwa banyak hal yang bisa saya lakukan didunia ini, dan saya rasa saya sudah menghabiskan waktu dengan sia-sia, meskipun tidak semuanya terhabiskan seperti itu.



Ujian Nasional pun diambang pintu, tradisi khas yang tidak bisa lepas pasti kita semua tahu. Ya, disaat sebagian anak bangun subuh hanya untuk menjemput “sang kunci”, saya dan beberapa teman (dapat dihitung dengan jari) hanya bisa bangun subuh untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari selama ini. Saya tidak ingin memulai suatu jalan dengan kecurangan, saya ingin kejujuran mendampingi jalan saya, membuka jalan saya. Meskipun saya digunjing, dikatakan sok pintar, tetapi kita akan lihat siapa yang benar-benar akan memenangkan ujian itu, ya meskipun saya mengakui bahwa saya juga sering menyontek saat ulangan, tetapi tidak dalam UN ini. Di pengumuman kelulusan, saya terlempar ke peringkat 6, dan teman-teman yang mengandalkan “sang kunci” dan tidak pernah masuk ke dalam 10 besar tiba-tiba naik ke peringkat atas, 1-5. Saya terima, toh saya juga masih 10 besar. Saya yakin, nilai diatas kertas tidak akan membuktikan apa-apa, jika tanpa ilmu yang dibawa ketika kita meninggalkan tempat dimana kita menutut ilmu itu sendiri. Pemikiran saya perlahan-lahan mulai berkembang, sedikit demi sedikit terbuka. Saya berambisi untuk kuliah dengan mendapatkan beasiswa, dan merasakan kuliah di luar negeri. Saya sudah mulai berambisi dalam hal-hal yang berbau seperti itu. 




Perjalanan terakhir sebelum perjalanan yang sesungguhnya, saya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 9 Pontianak. Saya sedikit kaget ketika proses pembelajaran dan sosialisasi di kelas 10 berlangsung, atmosfir yang saya rasakan sangat berbeda, ketika SMP situasi yang saya hadapi sangat kompetitif, saya saling kejar mengejar dengan teman saya, meskipun teman dekat tetapi kalau masalah prestasi saya tidak mau kalah dengan mereka. Tetapi dikelas baru ini, suasananya berbeda sekali, situasi kompetitif tidak tampak, karena dikelas 1 ini semua murid baik dari nilai tertinggi maupun terendah dicampur baur. Di SMA lah, masa keemasan saya berlangsung. Saya berhasil mempertahankan peringkat 1 dari awal sampai akhir, sesuai dengan impian saya yang sudah saya targetkan ketika kelas 2 SMA. Tetapi semua butuh proses.

Dikelas 1, masih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, belajar, dan indahnya cinta monyet. Saya akui, sempat menjalin hubungan dengan salah satu teman sekelas, dan berakhir ketika menginjak 7 bulan hubungan. Dan menurut saya itu adalah batu loncatan yang sangat berharga, ketika hubungan tersebut berakhir, saya patah hati setengah mati, pelajaran saya sedikit terganggu. Saya tidak pernah menjalin hubungan sedekat itu sebelumnya dan dia sudah sangat dekat dengan saya, tiap hari mengantar jemput dan belajar bersama-sama. Dan itu juga pertama kalinya saya patah hati, sehingga saya harus berusaha move on, tetapi tidak mudah, butuh waktu setahun lebih untuk benar-benar bebas dan kembali baik-baik saja. Dalam masa penyembuhan itu, saya mengambil kesibukan, baik organisasi maupun lomba-lomba. Ketika kelas 1 saya mencalonkan diri sebagai kandidat OSIS dan terpilih kembali menjadi sekertaris OSIS. Tetapi saat itu saya masih menjalin hubungan dengan dia, dan terlena sehingga bekerja tidak maksimal. Saya ditegur oleh Pembina OSIS saat itu karena tidak menjalankan peran sebagai sekretaris dengan baik, saya dianggap remeh saat itu, dan saya dianggap tidak berkualitas. Seiring dengan berjalannya waktu, menunggu untuk pemilihan OSIS selanjutnya, saya berniat untuk naik sebagai Ketua. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa. Tetapi dalam perjalanan tersebut tak lepas juga dari keaktifan saya didalam kelas sehingga saya terus menerus dipercayai untuk ikut berbagai macam lomba akademik, karena disekolah tersebut yang “mau” dan “mampu” hanya dapat dihitung dengan jari, sehingga guru-guru selalu mengandalkan orang yang sama dalam lomba yang berbeda. Saya mengikuti mulai dari lomba matematika, fisika, sejarah, olimpiade kebumian, bahasa inggris, karya tulis, ceramah, pidato, tenis meja, taekwondo, seputaran itu, dan mungkin ada beberapa yang saya lupakan. Tetapi meskipun banyak yang saya ikuti, terutama lomba matematika, fisika, dan bahasa inggris tidak pernah menang, karena persiapan yang kurang dan terlalu banyak merangkap sehingga tidak fokus.

Naik ke kelas 2, saya lolos ke program IPA. Dikelas 2 ini siswa siswi mulai disortir dan saya kembali merasakan lagi atmosfir kompetisi tetapi tidak terlalu pekat. Saya semakin dikenal oleh guru-guru seantero sekolah, saya dipercaya dalam banyak hal, patah hati membuat saya rakus kesibukkan demi melupakan dia. Dalam pemilu OSIS 2013/2014 saya terpilih dan naik sebagai Ketua OSIS, akhirnya target saya tercapai. Tetapi tanpa saya sadari, saya akan memegang tanggungjawab besar selain OSIS. Ya, bukan hanya lomba yang membutuhkan saya untuk merangkap banyak bidang, didalam organisasi juga saya harus memegang jabatan ketua, tak tanggung-tanggung Gerakan Anti Narkoba dari Kader Anti Narkoba SMA N 9 (Gertinar El-Nino), Sekolah Hijau Go Green, Kantin Kejujuran, semua saya ketuai. Belum lagi Pramuka, dan Karya Ilmiah Remaja saya naungi juga, serta menjadi ketua kelas pada saat itu, sejak SD saya sudah dipercayai terus menerus menjadi ketua kelas, mungkin karakter ini yang membuat saya selalu ingin menjadi seorang leader dimanapun saya berada. Merangkap banyak baik di organisasi maupun kegiatan akademik membuat saya merasa saya telah menemukan apa yang telah saya cari, prestasi-prestasi akademik mulai saya raih, saya menemukan bakat saya dalam bidang kepenulisan, memang sejak SMP saya senang menulis cerpen dan puisi, untuk diikutkan lomba di facebook, dan ketika SMA saya berubah haluan dari menulis fiktif menjadi menulis ilmiah melalui karya tulis ilmiah. Disinilah puncak karir saya, dikelas 2 ini. Jika diakumulasikan maka bisa hampir 2 bulan saya absen belajar hanya untuk ikut seminar, rapat, lomba, dan lain-lain. Saya pernah bersekolah hanya 1 hari dalam seminggu, bahkan seminggu full tidak sekolah juga pernah saya rasakan. Disisi lain, karena sering ikut seminar tentang motivasi saya akhirnya menuliskan impian-impian saya pada buku impian yang saya miliki, impian, rencana hidup, target, saya tulis semua disitu. Karena katanya kekuatan impian yang dituliskan lebih besar daripada hanya diingat. 




Saya hanya berfokus pada satu hal, tetap sama saat SMP yaitu ingin melanjutkan kuliah dengan beasiswa dan merasakan kuliah diluar negeri. Saya masih belum memiliki pilihan lain selain bercita-cita untuk menjadi dokter, pengacara telah saya coret dari cita-cita karena saya pikir saya akan berkesempatan untuk membela orang yang salah, karena pada dasarnya pengacara itu akan membela bagaimanapun kliennya. Saya lebih memilih untuk menjadi dokter karena saya ingin agar saya dapat bermanfaat bagi orang lain. Allah pasti menciptakan saya dengan suatu tujuan, tujuan hidup. Lalu apa tujuan hidup saya sebenarnya? Apakah saya hidup hanya untuk diri saya sendiri? Atau orang lain? Akhirnya saya memutuskan untuk hidup dengan bermanfaat bagi orang lain, karena menurut saya sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Mengapa saya ingin menjadi Ketua OSIS? Karena saya menargetkan untuk bisa mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Nasional seperti yang pernah diikuti ketua OSIS sebelumnya. Di bulan Juni 2014 saya diberikan kesempatan untuk mewakili Kalimantan Barat mengikuti Lawatan Sejarah Nasional (LASENAS) di kabupaten Siak, Provinsi Riau. Hal ini saya dapatkan tidak mudah, saya awalnya harus mengikuti Lawatan Sejarah Daerah di Bengkayang terlebih dahulu, awalnya saya tidak mengira bahwa dari kegiatan ini akan berlanjut ke nasional. Tetapi karena tujuan dari kegiatan ini untuk memilih perwakilan ke tingkat nasional, maka saya memasang target bahwa saya harus terpilih. Selama kegiatan saya berusaha memberikan yang terbaik, dan Alhamdulillah saya dipercayai bersama satu rekan dari Bengkayang bernama Jhon untuk pergi ke Riau. Ini merupakan suatu hal yang tak pernah saya rencanakan sebelumnya, tetapi Allah memberikan hal ini kepada saya, saya sangat bersyukur. Kegiatan tersebut sangatlah menyenangkan, dan berkesan. Selang beberapa bulan, saya dipanggil oleh kepala sekolah, dan Alhamdulillah saya dipilih untuk ikut Latihan Dasar Kepemimpinan Nasional di Sekolah Calon Perwira (SECAPA AD) Bandung, Jawa Barat bersama 8 rekan OSIS dari sekolah lain. Saya sangat bersyukur dengan semua pencapaian yang sudah saya dapatkan saat itu, meskipun sibuk saya tetap bisa mempertahankan peringkat pertama, karena saya sudah menargetkan bahwa tidak ada yang boleh merebut posisi saya yang satu ini. Meskipun terkesan egois, tapi hal ini yang memacu saya belajar, sehingga saya tidak mau membiarkan diri saya tenggelam dalam kemalasan. Semakin mendekati semester akhir kelas 2 ini, mata serta pikiran saya mulai terbuka. Ternyata banyak sekali hal yang dapat saya lakukan selama ini. Saya mulai tertarik dengan dunia kepemudaan seperti Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN), pertukaran pelajar, magang diluar negeri, dan semua hal yang berhubungan keluar negeri. Saya mulai tertarik dengan Hubungan Internasional ketika ada salah satu teman dalam seminar Gender Fair Camp yang mengatakan bahwa ia ingin menjadi Duta Besar dan kuliah mengambil jurusan itu. Saya tertarik dan menuliskan Duta Besar sebagai salah satu cita-cita saya. Akhirnya saya memiliki 2 opsi pilihan, akan jadi apa saya nanti dimasa depan?






Naik ke kelas 3, seharusnya saya sudah bisa fokus belajar, tidak memikul tanggung jawab apa-apa, dan tidak diikutkan lomba lagi. Tetapi sayangnya, baik sekolah maupun diri saya sendiri memang tidak bisa mengizinkan saya untuk menghabiskan masa-masa SMA terakhir tanpa berprestasi. Di kelas 3 ini saya masih memegang jabatan sebagai ketua OSIS sampai 2015 dan seharusnya sudah dilaksanakan pemilu untuk menggantikan saya jauh-jauh hari, tetapi Pembina OSIS beriskeras untuk menundanya sampai saya masuk kelas 3 semester 2 mendekati UN. Jika di total, 2 tahun saya menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri 9 Pontianak. Saya masih sempat mengukir prestasi disaat-saat terakhir, piala terakhir yang saya persembahkan adalah Juara 2 Mathematic On The Paper Kompetisi Matematika (KOMET) ke-11 Himpunan Mahasiswa Matematika Universitas Tanjungpura tingkat provinsi, dulu saya pernah lolos 5 besar dalam lomba ini tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Alhamdulillah, Allah memberikan kemenangan dikesempatan kedua ini. Selain kegiatan didalam sekolah saya juga mulai aktif kegiatan diluar sekolah dengan mengikuti Komunitas Earth Hour Pontianak, dan mulai darisinilah mata serta pikiran saya mulai terbuka untuk terjun kedalam komunitas masyarakat. Memasuki semester 2, saya sudah bisa fokus belajar walaupun waktu yang tersisa kurang dari 5 bulan. Ketika saya melepas jabatan saya sebagai ketua OSIS, saya tidak menyangka bahwa ternyata kinerja saya selama ini mendapatkan feedback positif baik dari guru-guru maupun Pembina OSIS itu sendiri. Dulunya saya dianggap remeh, tidak bisa diandalkan, tetapi ketika saya dalam masa transisi melepas jabatan Pembina OSIS terang-terangan mengatakan “Susah nyari orang kaya kamu.”, serta ada satu guru yang dulunya juga menganggap remeh padaku ia sekarang malah mengatakan bahwa saya Ketua OSIS terbaik disini. Saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan respon positif seperti itu, saya menganggap kinerja saya masih jauh dari kata maksimal dan saya masih terus belajar memimpin, tetapi ternyata apa yang saya lakukan sudah lebih dari apa yang diinginkan. Saya bersyukur akan hal itu. 




UN semakin mendekat, sebelum UN diselenggarakan siswa-siswi akan didaftarkan untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau biasa kita sebut masuk PTN melalui jalur rapot. Siswa diberikan 2 opsi PTN 3 prodi. Saya bingung, semua hal yang telah saya alami selama ini membuat saya semakin terobsesi ingin keluar negeri, dan juga bermanfaat bagi orang lain. Saya bingung ingin meletakkan Pendidikan Dokter atau Hubungan Internasional dipilihan pertama? Mengambil keputusan sendiri dan dengan sharing bersama guru les, nilai rapot saya diprediksi akan lolos di kedokteran jika saya meletakkan Pendidikan Dokter di pilihan pertama. Saya masih belum tau tentang biaya serta apa yang akan terjadi ketika saya sudah memilih, yang ada dibenak saya saat itu adalah, perkuliahan terlihat akan lebih mudah untuk mencoba hal-hal baru daripada di SMA. Saya bingung, saya sedikit pesimis, dan akhirnya saya meletakkan Pendidikan Dokter dipilihan pertama dan Hubungan Internasional di pilihan kedua, keduanya sama-sama di Universitas Tanjungpura Pontianak. Dan opsi pilihan PTN lain adalah Universitas Indonesa prodi Sastra Jepang. Pilihan telah dibuat, saya tidak bisa mengubahnya lagi. Dan tanpa saya sadari, ternyata pilihan tersebut menimbulkan sebuah masalah disuatu hari nanti.




UN tahun ini tidak menentukan kelulusan, kelulusan hanya ditentukan dari pihak sekolah. Saya sedikit lega mendengar hal tersebut. Kejujuran saya kembali diuji saat itu, diantara semua angkatan, hanya sekitaran 6 orang termasuk saya yang tidak menggunakan kunci. Sisanya? You know. Berat? Sangat berat, ntah kenapa UN ini tidak seperti yang saya bayangkan, tidak mudah, sulit. (Baca Problema Ujian Nasional (UN)). Setelah UN selesai, saya masih bimbang dan gelisah karena saya merasa akan ada nilai yang jebol, yaitu matematika. Saya akui bahwa saya sering ketinggalan pelajaran sehingga harus belajar seadanya, dan itu resiko yang harus saya hadapi ketika UN, tidak mengerti dengan soal dan bingung harus memulai darimana. Saya kembali diuji, saya digunjing dan dibicarakan dari belakang, karena tidak memakai kunci itu. Saya terima, sekali lagi, saya tidak ingin memulai jalan hidup ini dengan kecurangan, saya ingin kejujuran yang membuka jalan tersebut. Dan Alhamdulillah, ketika saya SMA saya tidak pernah mencontek seperti yang saya lakukan ketika SMP, dan ketika pengumuman kelulusan saya malah mendapatkan bertubi-tubi penghargaan dari sekolah, mulai dari siswi berprestasi hingga Juara 1 umum angkatan IPA SMA Negeri 9 Pontianak. Meskipun pada akhirnya nilai Matematika saya memang benar-benar jebol sehingga saya harus mengambil keputusan untuk ikut Ujian Nasional Perbaikan 2016 untuk memperbaiki nilai Matematika saya. Saya harap hal ini tidak menjadi masalah nantinya.




Untuk mengisi kekosongan waktu, sembari menunggu hasil pengumuman UN serta seleksi jalur rapot saya mengikuti Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Alhamdulillah saya berhasil duduk di peringkat 8. Serta mulai aktif ikut lomba-lomba dan kegiatan pelatihan yang saya dapatkan dari teman-teman saya. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai bergaul dengan orang-orang hebat serta menginspirasi saya, membuat saya memiliki keinginan menggebu-gebu agar bisa menjadi seperti mereka. Dan akhirnya saya sadar, bahwa passion saya adalah di Hubungan Internasional, ya saya suka berbicara dan berdebat, saya suka bersosialisasi. Saya mulai yakin akan lolos di pilihan kedua yaitu Hubungan Internasional (HI) dan menaruh pesimis di Dokter. Kenapa saya pesimis? Karena hal utama yaitu saya bersekolah disekolah yang tidak terlalu terkenal dan ada banyak sekolah-sekolah terkenal yang lebih unggul sisi akademisnya untuk para siswa yang dididik, sehingga peluang kecil untuk saya lulus di kedoketeran, karena saya pasti saya akan kalah saing dengan siswa dari SMA Favorit.



Tetapi semuanya terbantahkan oleh hasil pengumuman SNMPTN tersebut, saya tidak percaya, saya kaget setengah mati, saya lulus di pilihan pertama, Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat. Itu artinya, saya akan menghabiskan 6 tahun disana. Untung saja saya mendaftarkan diri saya dalam program beasiswa bidikmisi, sehingga saya dapat meringankan beban orang tua agar tidak pusing mencarikan biaya untuk kuliah yang terkenal sangat tinggi. 




Sedih, tidak percaya, ingin tidak mengambil pilihan itu, semuanya berkecamuk didalam pikiran saya. Kenapa saya malah terlihat menyesali apa yang sudah saya pilih? Jawaban saya yaitu, saya hanya takut. Takut apa? Saya hanya takut, bahwa impian-impian saya yang sudah saya susun rapi, dan sudah saya rencanakan untuk saya ikuti nanti, tidak bisa diwujudkan sama sekali. Karena kuliah di kedokteran pada dasarnya adalah belajar untuk menyelamatkan nyawa orang lain, sehingga tidak boleh main-main dan harus fokus. Banyak sekali hal-hal yang sudah saya rencanakan untuk saya coba ikuti ketika kuliah, seperti Pertukaran Pemuda Antar Negara, Kapal Pemuda Nusantara, Youth Exchange, tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Intinya kegiatan tersebut jika ddikuti akan memakan waktu berhari-hari, saya hanya takut ketika saya mengikuti kegiatan tersebut saya malah akan membuat masa kuliah saya semakin lama dan beasiswa saya akan tidak cukup memenuhi kebutuhan kuliah saya. Jika seandainya saya lulus di HI, maka mungkin akan mudah bagi saya untuk mengejar ketertinggalan kuliah saya, karena menggunakan SKS, sedangkan di kedokteran itu sendiri menggunakan sistem modul. Belum lagi dengan regulasi dari beasiswa bidikmisi yang mewajibkan saya untuk menjaga IPK agar tetap diatas 3, maka itu akan semakin membuat saya susah untuk aktif di kegiatan apapun, saya menjadi harus membatasi diri.


Tetapi saya mulai sadar, bahwa semua ini seharusnya saya syukuri, nikmat Allah yang telah saya terima begitu luar biasa. Lulus kedokteran melalui rapot tanpa harus repot-repot tes, lalu dibiayai penuh oleh beasiswa. Apa lagi yang harus saya ingkari? Belum lagi dukungan penuh dari guru-guru dan keluarga, semakin membuat saya tidak bisa melepaskan kesempatan yang sudah saya dapatkan ini dan tanpa saya sadari saya sudah mengangkat nama baik dan keluarga ini dimata tetangga dan keluarga lain, dan terutama saya mengangkat nama baik sekolah saya sendiri, karena saya adalah siswa pertama yang masuk kedokteran melalui nilai rapot, semua guru-guru seantero sekolah sangat membanggakan saya ketika saya datang berkunjung kesekolah, terharu serta bersyukur yang saya rasakan. Memang pada awalnya saya ingin melepaskan dan ikut tes untuk tetap mengejar HI, tetapi jika saya melepaskan kesempatan ini maka akan membuat nama sekolah saya jelek dan saya akan menjadi seseorang yang merugi karena sudah melepaskan kesempatan yang tidak semua orang bisa dapatkan.



Jika memang Allah memberikan takdir kepada saya untuk lulus di pilihan kedua, tidak ada susahnya untuk Ia mengatur segalanya bukan? Mengganti siang menjadi malam saja mudah, apalagi mengganti nasib seorang hamba-Nya. Ini sudah menjadi jalan takdir saya, dan saya harus menerimanya. Lagipula jika ditelusuri, menjadi dokter adalah tujuan yang sudah saya targetkan jauh-jauh hari, sehingga untuk apa saya mati-matian belajar demi masuk IPA?

Saya hanya merasa baru menyadari passion saya yang sebenarnya, saat itu juga passion saya di kedokteran hilang tak berbekas. Dan akhirnya setelah semua ini terjadi saya harus mencari lagi, mengumpulkan passion agar saya kembali bersemangat untuk kuliah di kedokteran. Saya hanya khawatir jika jalan yang akan saya hadapi ini membuat saya tidak bisa mencapai impian-impian saya yang lain, saya hanya ingin menjadi seseorang yang valuable dalam usia muda, berpengalaman, dan menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Sepertinya hanya saya yang mengkhawatirkan hal-hal seperti ini, teman-teman saya yang lain terlihat tidak memikirkan apapun. Saya tau, bahwa mereka belum menemukan hal-hal apa saja yang bisa mereka lakukan sebenarnya, tetapi saya saat ini sudah menemukan banyak hal yang bisa saya coba lakukan, tiap kesempatan saya akan coba ambil. Saya paham dengan kekuatan memiliki target, saya menuliskan target-target saya dengan jelas, dan berharap semuanya akan terwujud dalam waktu yang tepat. 

“Jika kau bergaul dengan pencuri, maka kamu juga akan mencuri. Jika kamu bergaul dengan penjual minyak wangi, sudah tentu pasti kau juga akan ikut wangi.”


Saya ingin memepersiapkan diri sedini mungkin, mengetahui banyak kesempatan sebelum waktunya daripada mengetahui kesempatan setelah itu berlalu, serta bergaul dengan orang-orang sukses. Orang-orang luar biasa yang ada disekitar saya membuat ambisi saya terbakar, saya menyadari bahwa prestasi serta pengalaman yang saya dapat kan selama ini masih belum sebanding dan sebanyak mereka. Tingkat pengalaman saya hanya sampai nasional, sedangkan mereka hingga internasional. Terkadang aku merasa minder untuk bergaul dengan mereka. Tetapi, jika saya bergaul dengan mereka maka saya pasti juga akan bisa sukses seperti mereka.





Sebentar lagi saya akan mulai masuk kuliah, memulai perjalanan hidup yang sesungguhnya. Semakin lama saya merasa semakin memiliki banyak kesempatan namun belum bisa mencoba. Saya hanya bisa berdoa meminta kepada Allah agar segala urusan akan dipermudahkan. Sesungguhnya jika saya banyak bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya. Selalu ada harapan bagi yang terus berdoa, selalu ada jalan bagi yang mau berusaha.Saya akan terus mengasah dan memperisapkan diri, sehingga jika nanti pada akhirnya kesempatan benar-benar datang, saya akan siap untuk menangkap kesempatan tersebut dengan persiapan yang matang.



 SUCCES TIPS
Don't be afraid TO FAIL
Be DIFFERENT
Cherish the PROGRESS
DISCIPLINE
Have your PASSION
Ready for the OPPORTUNITY
Have FAITH
(Mery Riana)

Kamis, 16 April 2015

Problema Ujian Nasional (UN) 2015

Beberapa hari yang lalu, Ujian Nasional tingkat SMA/MA/sederajat telah selesai dilaksanakan. Namun, ada sesuatu yang menarik dari Ujian Nasional kali ini, yaitu soal yang bocor dan beredar melalui internet. Diduga pelaku yang mengunggah soal UN ini berasal dari Perusahaan Percetakan Negara. (Global Tv)

Ujian Nasional sampai sekarang tetap menjadi momok yang menyeramkan bagi seluruh pelajar di Indonesia, padahal tahun ini kelulusan tidak ditentukan oleh UN melainkan dari keputusan sekolah. Oleh karena itu, setiap penyelengaraan UN selalu diwarnai dengan bumbu-bumbu kecurangan yang sudah tidak menjadi rahasia umum lagi. Baik itu kunci jawaban yang diperjualbelikan, dengan jaminan bahwa 100% kunci itu benar, maupun soal-soal yang sengaja dibocorkan dengan digandakan oleh oknum-oknum tertentu. Berkualitaskah pendidikan kita jika seperti itu?

Terkadang bagi orang-orang yang iri, ketika berlaku jujur kita terlihat seperti orang yang sok alim.

Saya sendiri adalah seorang siswi SMA yang juga baru saja mengikuti Ujian Nasional 13-15 April yang lalu. Saya bukan ingin pamer, ataupun disebut sok pintar. Tetapi memang saya mengerjakan UN selama 3 hari itu murni dari hasil pemikiran otak saya, bukan dengan pemikiran otak orang lain maupun otak kunci jawaban. Saya mengamati sendiri kondisi serta situasi selama UN itu berlangsung 3 hari. Jika dihitung, tidak sampai 10 orang yang jujur dengan tidak membeli kunci jawaban maupun menyontek seangkatan saya. Saya miris melihat kondisi seperti itu. Memang yang tidak melihat kunci jawaban itu adalah siswa yang memiliki prestasi akademik yang baik disekolah, rangking 1 dikelas, termasuk saya. Ketika SMP saya juga mengambil keputusan yang sama, dengan tidak menggunakan kecurangan sama sekali. Hal yang saya alami sekarang, kurang lebih sama ketika saya SMP.


Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai.


Saya tidak ingin munafik, tetapi saya tidak ada terbesit sama sekali niat untuk menyontek dengan kunci jawaban yang banyak diperjualbelikan oleh teman-teman saya. Tetapi dengan keputusan saya untuk tidak membeli kunci dan memilikinya, dianggap sesuatu yang aneh menurut teman-teman saya, saya  dibilang sok pintar, diejek, dibully, dan disumpah-sumpah. Saya tidak merasa saya pintar, saya hanya merasa saya bisa untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Walaupun pada akhirnya, saya merasa pesimis dengan hasil pekerjaan saya dalam Matematika (hanya bisa mengerjakan 19 soal), Fisika, dan Kimia. Saya mengakui kekurangan saya di mata pelajaran tersebut, karena saya lemah dalam hitung-hitungan. Faktor lain yang membuat saya lemah dalam beberapa pelajaran karena saya jarang masuk sekolah, bukan karena bolos ataupun sakit. Tetapi selama 5 semester saya aktif dalam organisasi di sekolah baik OSIS, Kader Anti Narkoba, Komunitas Sekolah Hijau, dll. Serta saya sering diikutkan lomba disana-sini, ntah kenapa siswa-siswi yang dipercaya untuk mengikuti lomba-lomba yang ada hanya itu-itu saja. Belum lagi saya aktif organisasi diluar sekolah, forum-forum dan komunitas. Sehingga saya jarang masuk pelajaran, saya memiliki waktu luang untuk belajar yang sedikit, tak jarang saya tertinggal ulangan, dll. 

Tetapi Alhamdulillah, saya sampai semester 5 ini masih tetap bisa mempertahankan rangking 1 dikelas, semoga saja disemester 6 saya masih bisa mempertahankan rangking 1 itu.


Disinilah saya sedikit merasa kesal dengan teman-teman saya (yang melakukan kecurangan saat UN), mereka yang memiliki waktu belajar lebih banyak malah tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Seharusnya mereka yang hanya datang, duduk, diam, belajar, pulang, bisa lebih daripada saya, lebih tahu dan lebih bisa. Ketika UN semakin dekat, mereka juga tidak memanfaatkan waktu belajar dengan maksimal, mereka malah tidak sekolah, bolos les, cuek dengan pelajaran saat saya dan beberapa teman-teman saya sibuk diskusi dengan guru tentang soal-soal UN. Mereka hanya berpikir, bagaimana caranya agar bisa melewati UN dengan gampang.


Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana.


Kembali lagi ke topik awal, menurut saya sistem UN manual yang masih dipertahankan saat ini masih akan terus membuat pelajar untuk melakukan kecurangan. UN yang sejatinya digunakan sebagai indikator pendidikan hanya sebagai sebutan saja, karena baik dalam pihak pemerintah maupun pelajar sama-sama memiliki oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jika kita sebut bahwa indikator pendidikan yaitu UN dalam rentang 1-10 adalah baik, maka itu adalah kebohongan besar. Kejujuran masih sangat minim dilakukan oleh sebagian pelajar, perbandingan siswa yang jujur dengan yang tidak jujur bisa menjadi 1 : 100. Mereka yang melakukan kecurangan berpikir, 3 hari ini akan menentukan 3 tahun yang telah mereka lewati. 3 tahun bukan waktu yang sebentar, apakah  sekolah hanya menjadi rutinitas wajib yang tidak memberikan bekal apa-apa kepada pelajar? Apa yang mereka dapatkan selama 3 tahun dibangku sekolah jika mereka lebih percaya terhadap sesuatu yang belum tentu kebenarannya, jadi selama 3 tahun ini mereka hanya sekolah tanpa menyimpan ilmu sama sekali?


Sebenarnya mereka sadar bahwa mereka memudahkan hidup mereka selama 3 hari, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka akan menyusahkan hidup mereka sendiri selama 30 tahun yang akan datang.


Sebenarnya, lulus SMA bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari segalanya. Disinilah kita akan memulai, kemana kita akan melangkah, kemana kita akan menjadi, dan kemana kita akan bertindak. Jika diawal saja sudah dimulai dengan kecurangan, bagaimana nantinya? Hasil tidak pernah mengkhianati proses. Kemarin mereka boleh saja dengan nyaman melalui tantangan besar, tetapi tidak menjamin mereka bisa dengan nyaman pula melalui tantangan-tantangan lain yang menanti.


Wacana tentang UN yang akan diulang pun mulai menyeruak dimedia massa, hal ini menimbulkan respon positif dan negatif. Berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap teman-teman saya, baik itu disekolah maupun digrub belajar, ada yang setuju dan ada yang tidak. Sisi positif jika UN diulang, maka siswa akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki nilai mereka dengan mempelajari materi yang tidak mereka kuasai saat UN kemarin. Tetapi dampak negatifnya adalah, akan ada penambahan anggaran untuk memproduksi soal-soal UN lagi, berdampak pada banyaknya pohon yang akan ditebang untuk keperluan kertas. Selain itu, siswa akan dipusingkan lagi dengan kondisi dan situasi UN yang dikenal banyak menimbulkan stress. Serta, ada yang berpendapat bahwa dengan diulangnya UN akan merugikan pelajar yang berbuat jujur, karena mereka yang memang sudah belajar dengan baik dan optimis dengan UN mereka terpaksa mengulang lagi, dan peluang nilai kedua lebih rendah dari nilai pertama juga membuat khawatir mereka.


Satu-satunya Ujian yang dapat menentukan kualitas dari individu tersebut adalah tes masuk perguruan tinggi, sudah pasti tes tersebut akan menyeleksi orang-orang terbaik dari yang terbaik. Disinilah kualitas individu akan terlihat, dan nilai hanya akan menjadi tulisan saja. 

Intinya, bagaimanapun pemerintah berusaha agar pelajar yang mengikuti UN tidak melakukan kecurangan adalah sesuatu yang hampir mendekati mustahil. Karena selalu ada orang-orang yang mencari celah dan kesempatan, serta selalu ada pelajar-pelajar yang membutuhkan bocoran. Mungkin dengan hadirnya sistem UN Online bisa memperbaiki kualitas pendidikan penerus-penerus bangsa ini menjadi lebih baik. Karena kami adalah calon guru, calon dokter, calon polisi, dan calon yang lain harus bisa memberikan contoh yang baik. Bagaimana seorang calon guru yang lulus dengan kecurangan bisa mendidik anak muridnya agar tidak melakukan kecurangan? Bagaimana calon penyalur aspirasi rakyat yang lulus dengan kecurangan bisa dipercayai untuk tidak melakukan penyimpangan ketika dia duduk dikursi jabatannya nanti?


Mungkin bagi kalian yang membaca tulisan ini ada yang merasa tersinggung, saya meminta maaf.  Tetapi inilah kenyataannya, bahwa kejujuran masih sangat minim diantara kita. Padahal, perkembangan zaman yang semakin modern menuntut kita agar memiliki bekal untuk menghadapinya, jangan sampai kita menjadi budak oleh orang asing dinegara kita sendiri karena tidak cukup pintar untuk melawannya.


Untuk teman-temanku yang berlaku jujur : Ingatlah teman, sesuatu yang diawali dengan kejujuran pasti akan diberkahi oleh Allah, mungkin bukan sekarang kita merasakannya, tetapi nanti. Karena perbuatan sekecil apapun pasti akan ada balasannya, Allah maha adil. Ia tidak mungkin membiarkan kita jatuh terpuruk ketika kita melakukan kebaikan. Yang terpenting adalah, terus berusaha diperjalanan awal kita saat ini, kita sudah mempunyai bekal untuk menghadapi dunia. Kita tinggal memilih jalan mana yang akan kita ambil, karena kita sudah memiiki visi kedepan. InsyaAllah jalan yang kita mulai dengan jujur ini akan dimudahkan oleh Allah. Jadikan mereka-mereka yang menjatuhkanmu, menghinamu, maupun menjelek-jelekanmu karena tidak mengikuti kecurangan sebagai acuan untuk maju, tunjukkan pada suatu hari nanti siapa yang bisa mencapai langit terlebih dahulu. 
Akan ada masanya dimana yang susah akan menjadi mudah, dan yang mudah menjadi susah. Sesungguhnya setelah kesusahan itu ada kemudahan.




{Tulisan ini hanyalah suatu opini dari pribadi saya sendiri dan hasil pengamatan saya terhadap lingkungan disekitar saya.}